| Sebenarnya, buat cowok yang merasa dirinya keren, bangga bisa mempermainkan wanita, menjalani hubungan dengan cewek lantas menyatakan cinta dengan cewek lainnya, merasa laku karena banyak cewek yang suka, berani melakukan hal2 yang tidak sepantasnya dengan wanita yang belum halal baginya,, dsbgnya, maka dari sudut pandang tertentu dialah korban.. Korban dari kebodohan diri sendiri.. Nabi memberikan peringatan, "Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi fitnahnya (cobaan) dari kaum wanita. " H.R. Bukhari. Jadi, tanpa dia sadari, dia sesungguhnya telah tenggelam dalam keburukan yang sangat buruk. Dan fatalnya, merasa bangga atas keburukan tersebut, bersenang-senang. Maka terlepas dari wanita yang jadi korbannya, sekali lagi, cowok inilah yang jadi korban terbesar. Korban dari kebodohan dirinya sendiri. So ladies,, berhati-hatilah terhadap cowok jenis ini..Karena kalau kalian jadi korbannya,, mau saja dipermainkan, dipegang-pegang,, akan lebih rumit lagi seharusnya. Masa' kalian mau jadi korban dari orang yang menjadi korban kebodohan dirinya sendiri?? Ahh,, rumit sekali menjelaskannya.. Jangan mudah percaya dengan kata-kata para cowok. Sekarang semakin susah membedakan mana cinta dan mana nafsu. Ngakunya cinta, tapi ternyata nafsu. Jika tak diberi, dia malah pergi meninggalkan.. Sent from Yahoo! Mail on Android |
Kamis, 25 April 2013
Korban dari kebodohan diri sendiri
Selasa, 16 April 2013
Quote
Tentu saja semua orang bisa berubah.. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi energi untuk membuat perubahan tersebut..
Berhenti merokok, mau belajar membaca Al Qur'an, adalah hal kecil saja bagi pencinta yang kadang gombalnya bilang: bersedia menyeberangi lautan api. Toh, itu demi kebaikan dia sendiri juga.
--Tere Liye, separuh quote dari buku 'Berjuta Rasanya'
Read more >>
Berhenti merokok, mau belajar membaca Al Qur'an, adalah hal kecil saja bagi pencinta yang kadang gombalnya bilang: bersedia menyeberangi lautan api. Toh, itu demi kebaikan dia sendiri juga.
--Tere Liye, separuh quote dari buku 'Berjuta Rasanya'
Malu,, tanda orang beriman..
”Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lainnya.” (HR. Hakim)..
Read more >>
Yaap,, malu merupakan salah satu cabang dari Iman..
Malu adalah perasaan atau sifat yang menimbulkan keengganan melakukan hal yang tidak baik. Orang yang punya rasa malu, akan merasa gugup atau merah mukanya apabila melakukan sesuatu yang rendah, tidak baik, dan tidak patut..
Jadi dengan kata lain,, kita adalah orang beriman klau kita MALU jika aurat terpampang kemana-mana..
Jika kita MALU jika melakukan kemaksiatan dan melipir mendekati zina..
Jika kita MALU saat mulai melakukan sesuatu yang tidak baik..
Maka dear,, jika kita masih punya sedikit rasa malu itu,,
Berarti masih ada iman dalam diri kita..
Kita hanya harus berusaha lebih keras agar iman itu bisa tumbuh besar..
Mungkin,,
Kita hanya perlu menurunkan sedikit ego dan kekerasan hati kita,, agar iman itu bisa menjelma dalam perilaku kita..
Banyak-banyaklah meminta kepada Sang Maha Pembolak-balik Hati..
Agar kita diberikan pemahaman-pemahaman yang baik..
Saya percaya,, kamu bisa berubah menjadi lebih baik dear..
Berusahalah...!!!
Senin, 15 April 2013
Ada Surga dan Neraka...
Saya sempat tertegun membaca penggalan note di atas.. Speechless..
Note diatas ditulis oleh seseorang yang "mengaku" Muslim.. In my humble opinion, seseorang yang mengaku Muslim tidak sepantasnya menulis seperti hal diatas.. Seolah-olah ragu dan mempertanyakan mengenai kebenaran..
Saya setuju dengan kalimat "Kebenaranlah yang hakiki"
Namun saya sama sekali tidak setuju dengan statement selanjutnya, "Meskipun entah seperti apa itu kebenaran, Bagiku tidak ada yang nyata semua semu"
Ohhhh Ya Allah...
Bukankah keyakinan tentang kebenaran berikut segala aspek didalamnya, didalam akidah Islam sudah final?? Kebenaran yang mana lagi yang dia pertanyakan??
Apakah dia tidak mempercayai kebenaran yang sudah tertulis jelas dalam Kitab Suci serta kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah?? Apakah semua itu tidak cukup untuk meyakinkannya??
Belum selesai masalah kebenaran yang dia pertanyakan,, lagi-lagi dia "memvonis" dirinya sendiri sebagai penghuni neraka.. Dia mengatakan seolah-olah neraka itu adalah "Berkah" dari Allah..
Ohhhh Ya Allah,, pemikiran macam apa ini??
Mungkin dia sebenarnya mempertanyakan mengenai masalah qadha dan qadhar,, mempertanyakan ketentuan Allah yang menakdirkan sebagian orang masuk surga dan sebagian lainnya masuk neraka..
Menurut hemat saya,, Allah memang Maha Mengetahui.. Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.. Oleh karena itu,, Allah pun mengetahui siapa saja yang akan masuk surga maupun neraka.. Semua itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh tiap-tiap hambaNya..
Takdir seseorang tidak ada yang tahu,, oleh karena itu mengapa kita tidak berbaik sangka kepada Allah bahwa Dia menakdirkan bagi kita hidayah dan kebaikan?? Kita sebagai hamba-hamba Allah diperintahkan untuk beriman dan beramal,, dan Allah akan memberi balasan bagi mereka pada hari kiamat berdasarkan apa yang telah mereka usahakan bukan berdasarkan apa yang Allah tetapkan baginya di Lauhul Mahfuz..
Allah telah mewajibkan bagi kita syariatNya dan memerintahkan kita dengan syariat tersebut.. Sehingga yang tersisa bagi kita hanya ada 2 pilihan.. Pertama,, kita berprasangka baik bahwa Allah menetapkan takdir yang baik bagi kita dan menakdirkan kita sebagai penghuni surga.. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya RahmatNya itu mendahului kemarahanNya, RidhaNya lebih Dia kedepankan daripada rasa kebenciaanNya.. Tempuhlah takdir yang demikain!! Berlakulah dengan perbuatan layaknya calon penghuni surga.. Setiap orang akan dimudahkan menuju takdirnya.. Kedua,, kita berprasangka buruk kepada Allah bahwasanya Ia akan memasukkan kita ke neraka dan kita memilih jalan-jalan yang mengantarkan kita ke neraka..
Bukankah Allah sebagaimana prasangka hambaNya??
Well,, saya bukanlah orang yang berkompeten menjelaskan mengenai ini.. Pengetahuan agama saya masih sangat terbatas.. Silahkan cari dan gali lagi secara mendalam mengenai hal ini.. Saya hanya berusaha menyampaikan sedikit yang saya ketahui..
Doaku,, semoga Allah memberikan dirimu dan juga saya,, hidayah dan kebaikan..
Aamin..
Kisah Cinta Klasik
Well,, beberapa hari yang lalu saya sempat dibuat tersentak dengan pernyataan dari seseorang mengenai kebahagiaan.. He tell me that he was so happy when he was with his girlfriend.. Dia merasa sangat bahagia ketika (maaf) menc**m pacarnya.. He was so addicted with her.. Dia mengatakan bahwa itu merupakan tanda bahwa dia cinta dan serius dengan pacarnya..
Saya lantas merenung, apakah yang dia maksudkan betul CINTA ataukah hanya NAFSU belaka??
Lantas timbul pertanyaan,, apakah seseorang dengan pemahaman yang baik tidak bisa mengalami haru-biru kisah perasaan?? Merasakan semua kebahagian?? Karena jadinya tidak boleh pacaran, tidak boleh berduaan, dan tidak boleh macam-macam??
Jawabannya,, tentu saja masih..
Tidakkah kita ingat akan sebuah kisah cinta klasik yang dapat kita jadikan tauladan?? Kisah cinta Ali Bin Abi Thalib RA dan Fathimah Az-Zahra RA..
Ali memendam perasaan kepada karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah juga sepupunya.. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, dan juga parasnya sangat memesona Ali.. Hal yang sama juga terjadi pada Fathimah.. Tapi dua orang ini adalah orang2 terbaik di jamannya, amat cemerlang pemahamannya, mereka tidak akan melanggar batas, bahkan saling melirik pun tidak berani, apalagi berduaan, bicara tentang perasaan secara terbuka. Bahkan konon katanya, karena teramat rahasianya setan pun tak tahu masalah perasaan diantara keduanya..
Fathimah sempat beberapa kali dilamar,, tak tanggung-tanggung orang yang melamar diantaranya adalah orang-orang yang Iman dan Akhlaknya tidak diragukan lagi, Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar ibn Al-Khaththab.. Ali merasa tersentak sekaligus merasa diuji, ia merasa diuji karena apalah ia dibanding Abu Bakar dan Umar.. Ali ridha' akan keputusan Allah.. Namun,, Allah menumbuhkan kembali tunas dihatinya yang sempat layu.. Lamaran kedua sahabat Rasulullah tersebut ditolak..
Maka kemudian Ali memberanikan diri mendatangi Rasulullah dan meminang Fathimah.. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya..
Lamaran Ali diterima Rasulullah..
Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Maka kisah ini adalah bukti nyata bagaimana skenario paling terlihat atas keterlibatan Allah.. Orang-orang hari ini sering lupa, jodoh adalah rahasia milik Allah, Jodoh tetap hak mutlak Allah. Skenario jodoh itu tetap berjalan dalam skenario Allah. Mau sebenci apapun kita dengan seseorang, jika jodoh, besok lusa malah menikah. Mau secinta apapun kita dengan seseorang, kalau tidak jodoh, besok lusa tidak akan menikah.
My Dear,, apakah kita bisa mengalami perasaan cinta yang agung? Bisa. Dan terlepas dari akan seperti apa mengharu biru perasaan kita. Kesedihan. Pengharapan. Menunggu. Bersabar. Maka selalu bentengi dengan pemahaman yang baik. Ada kaidah2 agama yang tidak bisa dilanggar, ada peraturan2 yang tidak bisa diabaikan..
Semoga postingan ini membuatmu bisa sedikit mengerti,, dear..
Read more >>
Saya lantas merenung, apakah yang dia maksudkan betul CINTA ataukah hanya NAFSU belaka??
Lantas timbul pertanyaan,, apakah seseorang dengan pemahaman yang baik tidak bisa mengalami haru-biru kisah perasaan?? Merasakan semua kebahagian?? Karena jadinya tidak boleh pacaran, tidak boleh berduaan, dan tidak boleh macam-macam??
Jawabannya,, tentu saja masih..
Tidakkah kita ingat akan sebuah kisah cinta klasik yang dapat kita jadikan tauladan?? Kisah cinta Ali Bin Abi Thalib RA dan Fathimah Az-Zahra RA..
Ali memendam perasaan kepada karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah juga sepupunya.. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, dan juga parasnya sangat memesona Ali.. Hal yang sama juga terjadi pada Fathimah.. Tapi dua orang ini adalah orang2 terbaik di jamannya, amat cemerlang pemahamannya, mereka tidak akan melanggar batas, bahkan saling melirik pun tidak berani, apalagi berduaan, bicara tentang perasaan secara terbuka. Bahkan konon katanya, karena teramat rahasianya setan pun tak tahu masalah perasaan diantara keduanya..
Fathimah sempat beberapa kali dilamar,, tak tanggung-tanggung orang yang melamar diantaranya adalah orang-orang yang Iman dan Akhlaknya tidak diragukan lagi, Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar ibn Al-Khaththab.. Ali merasa tersentak sekaligus merasa diuji, ia merasa diuji karena apalah ia dibanding Abu Bakar dan Umar.. Ali ridha' akan keputusan Allah.. Namun,, Allah menumbuhkan kembali tunas dihatinya yang sempat layu.. Lamaran kedua sahabat Rasulullah tersebut ditolak..
Maka kemudian Ali memberanikan diri mendatangi Rasulullah dan meminang Fathimah.. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya..
Lamaran Ali diterima Rasulullah..
Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Maka kisah ini adalah bukti nyata bagaimana skenario paling terlihat atas keterlibatan Allah.. Orang-orang hari ini sering lupa, jodoh adalah rahasia milik Allah, Jodoh tetap hak mutlak Allah. Skenario jodoh itu tetap berjalan dalam skenario Allah. Mau sebenci apapun kita dengan seseorang, jika jodoh, besok lusa malah menikah. Mau secinta apapun kita dengan seseorang, kalau tidak jodoh, besok lusa tidak akan menikah.
My Dear,, apakah kita bisa mengalami perasaan cinta yang agung? Bisa. Dan terlepas dari akan seperti apa mengharu biru perasaan kita. Kesedihan. Pengharapan. Menunggu. Bersabar. Maka selalu bentengi dengan pemahaman yang baik. Ada kaidah2 agama yang tidak bisa dilanggar, ada peraturan2 yang tidak bisa diabaikan..
Semoga postingan ini membuatmu bisa sedikit mengerti,, dear..
Kamis, 11 April 2013
.......
Ketika kita menyukai seseoang, bukan berarti kita pasti akan suka selamanya. Ada masa-masa rasa suka itu berkurang bahkan hilang sama sekali. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah tidak suka lagi, maka selesai begitu saja.
Read more >>
Itulah gunanya komitmen, kepercayan, yang akan membawa kembali perasaan suka persis sama seperti pertama kali dulu kenapa kita suka seseorang tersebut, atau malah lebih..
Kita tidak akan pernah bisa menghidupi sebuah hubungan jangka panjang hanya dengan cinta. Kita memerlukan energi lain, yaitu komitmen, kepercayaan.
Langganan:
Postingan (Atom)
