Kamis, 20 Januari 2011

Dear, My Self

Dear, My Self,

22 tahun hidup di bumi, ada banyak sekali yang sudah kau alami. Pahit-manis. Susah-senang. Ada hal-hal yang seolah memaksamu lebih cepat dewasa dari usiamu yang sesungguhnya.
Kaupun telah merasakan sendiri bagaimana yang dinamakan cinta. Ada masa-masa di mana kau akan terjatuh, merangkak, berjalan tertatih…
Tapi pada akhirnya kau memiliki kekuatan untuk berdiri tegak, bahkan dengan sangat kuat berlari.
Ingatlah ini.

Dear, My Self,
Kau tak perlu menjadi sempurna untuk bisa dicintai, karena sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna.
Kau tidak perlu menjadi semurni Ghandi untuk bisa mengasihi, karena sesungguhnya setiap manusia punya hati nurani.
Kau hanya perlu menarik nafas dan menjalani hidup, sehari demi sehari.
Ingatlah ini.


Dear, My Self,
Kau seringkali merasa dirimu tidak layak, merasa bersalah, merasa gagal, tidak punya harapan. Kenapa?
Kenapa harus merasa begitu?
Tidakkah kau sadar, dengan merasa begitu, kau tidak menerima kenyataan bahwa kau adalah seorang manusia.
Menjadi manusia berarti kau akan mengalami perih, bukan hanya bahagia.
Sakit, bukan hanya gembira.
Jatuh terjerembab, bukan melayang-layang di udara.
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.
Percayalah bahwa tak ada sesuatu apapun di dunia ini yang tidak ada harganya.
Jika rumput liar di hutan saja dipelihara semesta, terlebih lagi dirimu.
Ada hari dalam hidup di mana kita akan merasa sangat rendah dan tidak berdaya.
Hari ini sudah pernah kau alami, tapi toh kau masih bisa berdiri di sini saat ini.
Dan jika dia kelak datang lagi, ingatlah ini.
Pada akhirnya, kau pasti akan baik-baik saja.
Ingatlah bahwa kau cukup kuat untuk bisa melewati semuanya.

Bukankah kau sendiri pernah bilang “…Dalam hidup ini, ada tembok yang harus kita panjat. Semakin tinggi tembok yang berhasil kita panjat, semakin besar kebahagiaan dan kepuasan yang akan kita rasakan…” ?



Dear, My Self,
Jangan menyerah.
Dalam hal apapun, jangan pernah menyerah.
Selalu ingat bahwa akan selalu ada cahaya di ujung lorong yang sempit dan gelap.
Dan perjalananmu sudah terlanjur jauh untuk menyerah sekarang.
Bertahanlah.
Sebentar lagi.
Kita hampir sampai.


Ingatlah selalu orang-orang yang mengasihimu.
Yang dalam doanya selalu ada namamu.
Mama.
Bapak.
Beberapa sahabat.
Ingatlah bahwa orang-orang itu masih membutuhkan senyummu.
Ingatlah bahwa akan ada hati yang terluka jika kau memilih untuk menyerah sampai di sini.
Ingatlah selalu ini.



Dear My Self,
Ingatlah selalu bahwa tak ada manusia yang hidup tanpa masalah.
Dan ketika kau merasa terlalu lemah untuk bangkit berdiri, ingatlah untuk meminjam tangan orang lain.
Jangan pernah sedetikpun berpikir bahwa kau sendiri.
Masih ingat mimpi kita, kan? Masa depan yang seindah pelangi.









Stay strong.

Salam sayang, Your Self.



Terima kasih buwat Tita yang telah berbagi catatan ini denganku..
Tetap berjuang teman, untuk masa depan yang lebih indah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

How's your opinion???