Selasa, 07 Agustus 2012

Mohon Hamba PadaMu Ya Rabbi..

Ya Rabbi..
Ketika hamba mengingatnya, mohon jangan lantunkan hamba dalam angan percuma..
Namun tunjukkanlah bahwa mengingatMu selalu lebih utama..
 

Ketika hamba merindunya, Rabbi. Mohon jangan gerakkan bibir hamba untuk merangkai kata..
Tapi tuntunlah hati hamba untuk menghamparkan doa kebaikan baginya..


Ketika hamba melabuh harap bersamanya, Rabbi..
Mohon jangan Engkau lalaikan hamba dalam kilau dunia semata..
Tetapi semoga Engkau menangkan hati hamba untuk lebih mendambanya dalam keabadian surga..

Dan jika nantinya pun Engkau sandingkan dia dengan yang lain,, mohon jagalah hati hamba dari sendu yang terlalu..
Dari kepedihan yang sulit terurai waktu..
Ingatkan hamba Rabbi, bahwa hamba selalu memiliki cintaMu..

Mohon Hamba PadaMu Ya Rabbi..
Read more >>

Selasa, 24 Juli 2012

There's you in every song that i sing...


"I can't let you go, even i die. I really can't let you go. How am i suppose to let you go?" - 2PM.

" I love you for a thousand years" - Christina Perri.

"How lucky i am to have you.." - Jim Brickman.

" Saat kau di sisiku, kembali dunia teriak, tegaskan bahwa kamu ANUGERAH terindah yang pernah kumiliki.." - Sheila On 7
 
"What's a man(woman) to do when he's(she's) loving two.." - Usher.

"When i see your face there's not a thing that i would change cause you're AMAZING, just the way you are.." -Bruno mars

"Lihatlah ku di sini, memendam rindu. Setiap ku berseru, yang kusebut hanya namamu…" -Kla Project.

"Cause when i'm with him i'm thinking of you.." - Katty pery.

"You'll be a prince and i'll be a princess.." - taylor swift.

"Meskipun aku di surga, mungkin aku tak bahagia. Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu" - PADI

"L is for the way you look at me. O is for the only one i see. V is very very extra-ordinary and E is even more than anyone that you adore.." - Nat king cole

"Semua yang ada padamu, membuat diriku tiada berdaya.." - Rafika

  "Sungguh ku tak menahan bila jalan suratan menuliskan dirimu memang bukan untukku, selamanya.." -Rio Febrian.

"Time can't erase a feeling this strong. No way yo're never gonna shake me. Ooh darling cause you'll always be my baby.." - David cook


"There can never be another you.." - Brian McKnight.


Read more >>

Minggu, 22 Juli 2012

Talk Bout’ PHP


PHP apaan sih? PHP adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Sebagian banyak orang mengartikan bahwa PHP adalah semacam seseorang yang memberikan harapan kepada orang lain tetapi hanya palsu belaka.

Contoh kasus kayak gini nih, sebut saja si A dan si B yang udah deket dari dulu. Yaah semacam sahabatan cewek cowok gituu. Si cewek A rajin banget SMS bahkan nelpon si cowok B. Dan si B nanggepin dengan ngebalas SMS si A. Tiap si cewek A butuh bantuan, pengen curhat, dll si cowok B selalu ada buatnya. Tanpa sadar si cewek A punya perasaan lebih dari sekedar teman ke cowok B. Dengan tanggapan B yang baik banget, A ngerasa kalo si B juga punya perasaan yang sama. Hari berganti hari, hubungan mereka masih sebatas berteman. Akhirnya si A menyinggung soal komitmen dan si B selalu berdalih setiap mereka masuk ke topik itu. 
Nahh, dalam hal ini, si A ngerasa di-PHP-in. Sebenernya PHP itu gimana??? PHP (Penebar Harapan Palsu) adalah kondisi dimana ada orang yang perhatian banget sama lo tapi ternyata semua itu hanya FATAMORGANA dan pada akhirnya doi bilang “Emang aku ngasih harapan yah? Maaf deh”.

Mungkin penyebab utama dari kasus PHP ini memang hanya satu. Yaitu ga bisa bedain mana perhatian dan harapan.

Klo menurut gw sih, para cowok ngasih perhatian ke cewek tuh gak masalah. Selama cowok tersebut masih berstatus jomblo. Artinya bisa saja kan sikap ke-PHP-an itu dilakukan dalam pencarian pasangan yang terbaik. Bisa jadi sebenernya diawal hubungan, si cowok ada rasa, tapi ternyata setelah survey, ada beberapa sifat lo yang gak bisa doi terima. Sah-sah aja toh, kan belum ada komitmen.

Nahh lain cerita jika si cowok udah punya pasangan, tapi masih sering ngasih harapan ke cewek lain. Dan saat pacarnya komplain, biasanya cowok bakal berdalih ke pacarnya “tenang sayang, dia itu cuman teman biasa kok” atau “dia cuman pengen ditemenin nyari ini” dan sederet alasan lainnya.
Mungkin benar bahwa cowok tersebut gak punya perasaan apa2 terhadap si cewek, mungkin dia hanya sekedar baik hati. Tapi tahukah dia bahwa dengan dia bertindak seperti itu ada 2 orang yang sebenarnya tersakiti. Pertama pacar cowok tersebut.. Mana ada sih cewek yang gak sedih liat pacarnya jalan bareng ber2 dengan cewek lain. Walaopun cewek itu “cuman sekedar teman biasa”. Kedua yaitu cewek yang diPHPin tersebut, kasian juga sih harapanya terus dipupuk oleh si cowok tapi ujung2nya bakalan ditinggalin juga.

Saran gw yaa,, cowok ga usah deh ngasi perhatian lebih ke cewek lain klo udah punya pacar, gak usah sok baik untuk selalu ada disaat cewek itu punya masalah walopun itu temen deket klian dari dulu..
Terus buat si cewek yang masih saja mengharapkan cowok yang udah punya pacar,, aduhh ladies cowok tuh gak cuman satu. Dan harusnya sebagai manusia yang punya tata krama dan adab, ya menjauhlah ya. Paling tidak untuk menjaga agar hubungan mereka tetap baik. Oke it's clear enough!!


Aduhh,, absurd banget yak postingan hari ini.. Hahaa..
Read more >>

Sabtu, 21 Juli 2012

Menagislah...



Dan menangislah ketika Anda pikir itu perlu. Menangis bukan berarti sebuah kelemahan. Sejak lahir pun setiap orang sudah menangis bukan?

Tangisan identik dengan kesedihan.
Tidakkah kau sadari, tangisan ada di setiap sudut ekspresi mu?
Bahkan ketika kau terlewat bahagia, kadang kau menangis.
Ketika amarah mu menggelegak, kau menangis.
Ketika tidak ada daya apa pun yang bisa di perbuat, kau menangis.
Ketika kau menginginkan sesuatu, kau menangis.
Tangisan seperti layaknya pengaduan kepada Tuhan.
Dalam keadaan apa pun itu, Tuhan akan bisa menterjemahkan tangisan mu.
Apa yang kau mau.
Jadi, menangislah ketika kau ingin mengadu.
:)
Read more >>

Kamis, 19 Juli 2012

Selamat Datang Ramadhan...

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan bagi orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa" [Al Baqarah:183]

Sebelum Ramadhan datang, saya mau mengucapkan mohon maaf lahir batin atas segala tingkah laku, perkataan, tulisan, atau semua yang pernah merasa terlukai.

Menurut ku, tidak ada dendam yang tidak bisa dimaafkan. Begitu juga dengan gue sudah memaafkan semua yang pernah berlaku salah ke gue. Dan semoga kita diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalankan Ramadhan tahun ini.

 

Read more >>

Minggu, 17 Juni 2012

Yang Tak Terlupakan...














Melihat folder2 foto di laptop. Nemuin foto2 ini..
Kangen kaLian elixir... 
Kita akan bertemu lagi kawan. Dalam keadaan yang masing2 kita inginkan. Aamiin..
Read more >>

Sabtu, 10 Maret 2012

PEREMPUAN By Tasaro GK

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.
Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”
Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.
Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.
Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.
Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.
Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.
Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”
Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.
Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???
Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.
Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.
Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.
Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.
Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.
Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?
Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)


*Dikirim oleh ILaa via email.. Terima kasih sudah berbagi cerpen yang indah ini...
Read more >>